Soal Penganiayaan D, Akhirnya LPSK tolak permintaan AG, Ini penjelasan Hasto Atmojo Suroyo

- Selasa, 14 Maret 2023 | 12:54 WIB
Pelaku AG bakarkan rokok saat David lakukan sikap tobat (Instagram/@flashzon.id)
Pelaku AG bakarkan rokok saat David lakukan sikap tobat (Instagram/@flashzon.id)

SINARMERDEKA.ID - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menolak permohonan perlindungan yang diajukan oleh AG (15), anak yang berkonflik dengan hukum dalam kasus penganiayaan oleh pembebasan MDS (20) terhadap D (17) di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Selain itu, pencabutan permohonan perlindungan bagi AG sesuai Pasal 28 (1) huruf a UU Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Pasal itu mengatur tentang sifat seberapa jauh keterangan saksi dan/atau korban serta huruf d terkait rekam jejak tindak pidana yang pernah dilakukan oleh saksi dan/atau korban.

Baca Juga: Inilah 8 fenomena alam di dunia yang sangat mengerikan salah satunya dari Provinsi Lampung

“Status pemohon hukum (AG) sebagai anak yang berkonflik dengan hukum, tidak termasuk dalam subjek perlindungan LPSK yang diatur dalam Pasal 5 (3) UU Nomor 31 Tahun 2014,” kata Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa 14 Maret 2023.

Hasto juga menambahkan, dalam Sidang Mahkamah Pimpinan LPSK tersebut tetap merekomendasikan kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) dengan tembusan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Rekomendasi dimaksud berisikan agar kedua pihak itu dapat mendampingi AG dan memastikan terpenuhinya hak-hak AG dalam proses peradilan pidana sebagai anak yang berhadapan dengan hukum, khususnya pemohon sebagai anak berkonflik dengan hukum,” kata Hasto.

Baca Juga: Destinasi wisata alam di Lampung berhawa dingin menjadi pemikat wisatawan luar negeri saat ini

Hasto menjelaskan, rekomendasi tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Pasal 64 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Penolakan tersebut diputuskan dalam Sidang Mahkamah Pimpinan LPSK pada Senin 13 Maret 2023. AG telah mengajukan permohonan perlindungan ke LPSK pada Rabu, 1 Maret 2023.

Sementara itu Polda Metro Jaya memanggil empat orang saksi terkait kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Mario Dandy Satriyo alias MDS (20) terhadap korban D (17) di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Web series 'Mungkin Suatu Hari Nanti' diadaptasi dari novel karya Ayleen Tan: Kisah kasmaran gadis remaja

"Penyidik ​​masih menunggu adanya proses pemanggilan terhadap empat saksi tersebut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat konferensi pers di Jakarta, Senin.

Trunoyudo menambahkan pemanggilan para saksi tersebut bertujuan memperkuat adanya unsur perencanaan dalam kasus penganiayaan yang dilakukan oleh MDS (20), SL (17) dan anak AG (15).

Namun mantan Kabid Humas Jawa Timur tersebut belum dapat menyebut identitas para saksi karena hal itu menjadi kewenangan penyidik.

Baca Juga: Web series 'Mungkin Suatu Hari Nanti' diadaptasi dari novel karya Ayleen Tan: Kisah kasmaran gadis remaja

"Siapa saja saksi tersebut, kita sama-sama menunggu dari hasil penyidikan," kata Trunoyudo.

Sebagai informasi Polisi sebelumnya telah memeriksa sejumlah saksi untuk kasus ini yakni RZ teman korban, R dan N orang tua RZ, dan APA teman MDS.

Sebelumnya Polda Metro Jaya telah melakukan rekonstruksi kasus penganiayaan pada Jumat 10 Maret 2023 di TKP Komplek Green Permata, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Halaman:

Editor: Mario.

Sumber: Antaranews.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X